Logo

 Dinas Komunikasi dan Informatika
 Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Halaman Detail Berita

05 September 2017
Investigasi Gangguan Satelit Telkom 1 Ditunggu

JAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) masih menunggu hasil investigasi oleh Telkom dan pabrikan Lockheed Martin terkait gangguan satelit Telkom 1. Karena itu, Kemkominfo belum bisa menyimpulkan gangguan yang dialami satelit Telkom 1.

Pada Kamis (31/8) pekan lalu, sempat muncul laporan bahwa satelit Telkom 1 hancur di orbitnya. ExoAnalytic Solutions mengaku telah menemukan obyek yang diduga pecahan dari Telkom 1 berkat pelacakan di orbit.

Namun, hal itu langung dibantah oleh manajemen Telkom pada hari yang sama dengan argumen pihaknya masih bisa terhubung dengan satelit Telkom 1. Telkom juga terus berupaya untuk memulihkan koneksi jaringan pelanggan, termasuk ATM bank di Tanah Air dengan mengalihkan antena ke satelit lain.

Head of Sub Directorate for Satelite Management Kemkominfo Mulyadi mengatakan, sampai akhir pekan lalu, belum diketahui secara pasti penyebab gangguan satelit Telkom 1. Telkom bersama Lockheed Martin sedang melakukan investigasi komprehensif terkait gangguan tersebut.

“Penyebabnya belum diketahui. Saya belum bisa menyimpulkan dan berkomentar lebih jauh,” kata Mulyadi kepada Investor Daily, pekan lalu.

Menurut dia, umur satelit sudah bisa didefinisikan sebelum meluncur ke orbitnya. Berdasarkan rekomendasi pabrikan, satelit Telkom 1 memiliki umur desain selama 15 tahun. Setiap tahunnya, Telkom juga selalu melaporkan hasil general check up kepada Kemkominfo. Terakhir, laporan itu disampaikan pada 2016, dan dinyatakan satelit Telkom 1 masih layak beroperasi hingga 2019.

Terkait proses pemulihan yang sedang dilkaukan oleh pihak Telkom, Mulyadi optimistis dapat selesai tepat waktu, atau sesuai target 10 September 2019. Pasalnya, Telkom memiliki tenaga teknis yang bekerja optimal setiap hari dalam me-repointing 15 ribu site yang terkena gangguan.

“Upaya pemulihan itu kan dihitung berdasarkan jumlah site. Apalagi, pemulihan itu kan cuma me-repointing antena, bukan memasang, atau mengorbit lagi satelit,” ungkap Mulyadi.

Dia menyampaikan, belajar dari kasus gangguan satelit Telkom 1, operator telekomunikasi hendaknya memiliki infrastruktur dan SDM yang cukup untuk melakukan back-up apabila satelitnya sewaktu-waktu mengalami gangguan. Pasalnya, pelanggan satelit juga mempunyai kepentingan bisnis dalam melayani setiap pelanggannya.

“Intinya harus mempunyai back up yang cukup dan infrastruktur pengganti yang memadai. Misalnya, dengan mengalihkan ke jaringan fiber, atau juga ke satelit lainnya. Karena, pelanggan hanya mengingingkan supaya bisnisnya tetap berjalan lancar,” tutur Mulyadi.

Usia Efektif

Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengungkapkan, usia efektif dari satelit Telkom 1 adalah 15 tahun sejak diluncurkan tahun 1999. Karena itu, jika durasi pengoperasian satelit ini melebihi umur desain, yang terjadi adalah kontraproduktif. Karena itu, dia menyarankan supaya Telkom dan Lockheed Martin menginvestigasi yang komprehensif atas kejadian tersebut.

“Usia efektif satelit ini kan 15 tahun. Jadi, kalau lebih dari masa efektif ini, maka yang terjadi adalah oleng. Jadi, harus diinvestigasi, kenapa direkomendasikan hingga 2019, kenapa satelit ini masih bisa bertahan setelah usia efektif? Ini yang harus diinvestigasi,” ucapnya.

Terkait kerugian bagi pelanggan dari gangguan satelit Telkom 1, secara nominal belum bisa dipastikan. Yang pasti, bisnis satelit adalah bisnis kepercayaan. Dengan adanya kasus ini, bisa jadi, kepercayaan pelanggan kepada Telkom berkurang.

“Bagaimana pun, satelit masih sangat diperlukan. Apalagi, wilayah kita terdiri atas pulau-pulau. Meski demikian, pengoperasiannya peru diperhatikan masalah usia satelit, back up infrastruktur, sehingga bisa diantisipasi apabila terjadi gangguan,” pungkas Heru. (man)

Sumber : http://id.beritasatu.com/home/investigasi-gangguan-satelit-telkom-1-ditunggu/164807